Camping Pertama di Gunung

Di akhir penghujung tahun 2015, teman aku Ainur tiba-tiba mengajak aku naik Gunung. Tidak selamanya kisah perjalanan aku mendadakan kok, nanti ada yang direncanakan jauh-jauh hari. Oke kita lanjutkan kisahnya, aku dan Ainur sedang chat di group whatssapp, aku ingin jalan-jalan long weekend ini. Dan tanpa terduga Ainur mengajak aku ke Gunung.

Nama Gunungnya adalah Gunung Lembu, Gunung favorit para pendaki di Purwakarta Jawa Barat. Gunung paling kecil dibandingkan ketiga Gunung yaitu Gunung Parang dan Bongkok. Lokasi Gunung Lembu berada di Panunggal Desa Penyindang Kecamatan Sukatani, Purwakarta, Jawa Barat. Persis berada di atas Waduk Jatiluhur Purwakarta. Gunung Lembu adalah Gunung purba yang sudah tidak aktif lagi, bentuk Gunung ini seperti Lembu.

Aku tertarik dengan ajakan Ainur, Ainur juga mengajak Kakak Fina tetapi Kakak Fina tidak mau ikut karena Kakak Fina harus merayakan Natal. Aku juga tidak habis pikir mendaki Gunung esok tanpa persiapan yang matang. Sore hari aku masuk group itu, keesokan harinya aku berangkat. Untung saja Kakak aku yang dulu pernah melarang aku mendaki Gunung, membantu aku mempersiapan peralatan untuk mendaki Gunung. Ainur khawatir, karena aku baru pertama kali camping di Gunung dan ketakutan jika aku tidak mempunyai peralatan mendaki.

Sesuai dengan kesepakatan, aku dan lainnya bertemu di Stasiun Kota jam 08.00, tentu saja aku tidak bisa tidur karena aku memikirkan tracking ke Gunung Lembu dan teman-teman seperjalanan. Aku memikirkan bagaimana teman perjalanannya, bagaimana perjalanannya, apakah teman-teman Ainur itu mau menerima aku atau tidak.

Pagipun tiba, aku ke Stasiun kota dengan menggunakan Bus Trans Jakarta. Aku berangkat dari rumah lebih dari jam 06.00, aku menaiki bus Trans Jakarta hanya aku satu-satunya penumpang yang berada di Bus itu. Aku mengobrol dengan Supir Bus Trans Jakarta dan Bapak Supir Bus Trans Jakarta itu tidak percaya bahwa ada Kereta tujuan Purwakarta di Stasiun Kota.

Aku sampai Shelter Bus Way Harmoni ke pagian, jam 07.00 kurang, maklum Jakarta lancar hanya di waktu liburan di pagi hari sehingga aku cepat sekali sampainya. Aku menghubungi Ainur tak satupun nomor handphonenya aktif, aku agak ragu ke Stasiun Kota sendirian dan menghampiri mereka yang baru aku kenal.

Aku memutuskan untuk melanjutkan ke Stasiun Kota dan menunggu Ainur di sana.  Ada beberapa orang yang melihat aku membawa tas carier dan bertanya mau ke mana. aku menjelaskan, aku mau ke Purwakarta. Orang yang menanyakan aku di Stasiun Kota menganggap aku naik ke Gunung Bongkok. Aku menjelaskan bahwa aku akan mendaki Gunung Lembu dan mereka tidak tahu Gunung Lembu itu dimana.

Ternyata Ainur keretanya terlambat dan harus menunggu kereta yang keluar kota keluar terlebih dahulu. Wajar saja kereta yang terlambat, aku ke sana pada saat libur panjang atau long weekend. Aku di hubungi sama Rian, dia yang memegang tiket menuju Purwakarta.

Aku mencoba menghampirinya dan bilang Ainur terlambat karena kereta yang ditumpanginya. Rian mengajak aku untuk ikut gabung dengan yang lain, tetapi aku masih ingin menunggu Ainur. Akhirnya, Ainur datang dan kereta menuju Purwakarta datang untung saja kereta menuju Purwakarta terlambat datang sehingga Ainur tidak terlambat.

Aku, Rian, dan Ainur masuk ke kereta dan mencari tempat duduk. Dan pada saat aku mencari tempat duduk tiba-tiba ada seorang perempuan yang menegur aku. perempuan itu bernama Diyah,dia yang menegur aku untuk duduk di dekatnya. Aku dan Diyah satu rombongan dan akhirnya aku duduk tidak jauh di dekatnya.

Aku sangat mengantuk sekali karena semalaman aku tidak bisa tidur hanya tidur sebentar. Aku ingin sekali tidur tetapi Ainur terus menerus mengajak aku mengobrol. aku agak gregetan sama kereta karena berangkat tidak sesuai dengan jadwal, aku sudah bergumam dan bilang “kapan kereta ini akan jalan”. Teman aku yang ada disamping meminta aku untuk sabar, karena kereta yang aku tumpungi itu menunggu giliran untuk keluar dari peron.

Ainur terus menurus mengajak aku untuk mengobrol, mengobrol tentang kisah perjalanannya di Pantai. Dia menunjukkan potonya satu demi satu, aku tidak masalah dengan hal itu. Yang aku permasalahan kenapa ini kereta jalannya pelan banget dan panas, aku terasa kepanggang di buatnya. Dan juga sedikit demi sedikit penumpang berdatangan dan ada yang berdiri pula. Aku sampai membayangkan jika dari Jakarta ke Purwakarta berdiri terus apakah tidak capai?

Dari rasa sebalku sama kereta akhirnya kami sampai juga di Purwakarta, aku jadi penasaran dengan yang namanya Lukman. Dia yang menyuruh aku dan Ainur poto selfie karena Lukman tidak mengenal kami berdua. Setelah sampai, aku melihat kanan dari peron terdapat bekas kereta, gerbong kereta di tumpuk jadi satu dan rasanya ingin poto di sana.

IMG-20151225-WA021
Pertemuan tidak sengaja di depan Stasiun dengan Mas Agung

Setelah keluar dari Stasiun Purwakarta, banyak angkot yang menawari tumpangannya dari berbagai macam jurusan. Kesan pertama aku pada saat di Stasiun Purwakarta, Stasiunnya kecil dan tidak teratur jauh sekali keadaannya dari Stasiun Kota. Lukman menyuruh kami untuk masuk dalam angkot yang sudah di sewa sebelumnya. Aku menuju angkot yang sudah di sewa, Ainur melihat Mas Agung. Mas Agung ingin pulang menuju Jakarta, dan kami menuju Gunung Lembu. Mas Agung menyuruh kami untuk pulang karena di Gunung Lembu sudah penuh.

IMG-20151225-WA020
Wefie di dalam angkot

Kami menuju Gunung Lembu, sebelum ke sana kami mampir terlebih dulu di Pasar. Kami beristirahat untuk makan, shalat dan membeli logistik. Kami menuju Gunung Lembu, melewati pasar aku dan Ainur melihat petai teringat pada saat kami mendaki Gunung Munara.

Aku sangat mengantuk di angkot, aku mencoba untuk memeramkan mataku. Pada saat aku memenjamkan mata aku, jalan menuju Lembu berkelok-kelok. Akhirnya, aku bisa melihat sekeliling saja pemandangan yang aku lihat banyak sawah dan beberapa bongkahan batu. Bongkahan batu itu konon katanya letusan Gunung berapi pada jaman purba dan Gunung berapi di sekitar Purwakarta sudah tidak aktif.

Kami tiba di Gunung Lembu, teman aku yang lainnya mengurusi Simaksi dan yang lainnya packing ulang. Packing ulang di sini, kami memeriksa kembali kebutuhan kelompok. Terutama sekali logistik, tenda hanya di bawa oleh anak laki-laki. Sebelum mendaki hal yang wajib aku lakukan adalah berdoa, semoga dalam pendakian bisa naik dengan aman dan turun dengan selamat.

Kami berpoto-poto terlebih dahulu, setelah berpoto-poto kami memulai pendakian. Ternyata mendaki itu sangat berat apalagi aku tipikal orang yang jarang olahraga. Aku terus mendaki yang trackingnya tidak mudah, apalagi aku mendaki di ikuti oleh sekelompok nyamuk.

IMG_2516
Tracking awal di Gunung Lembu

Aku sebal sekali sama nyamuk, gigitannya sangat menyakitkan dan juga gatal. Sebelum berada di pos satu, teman rombongan aku bernama Bang Iyan mengeluh dan meminta untuk turun kembali. Dia lebih suka ke pantai daripada ke gunung, dia ingin meminjam sejumlah uang untuk kembali ke Base Camp.

IMG_2557
Istirahat di Camping Ground

Aku sangat terlambat sampai di Camping Ground dan teman-teman aku memberikan aku semangat untuk mencapai Camping Ground. Selama perjalanan aku menahan rasa gatal di serang nyamuk. Nyamuknya sangat sadis, wajar saja di Lembu banyak nyamuk karena ketinggian gunung di bawah 1000 mdpl. Lembu yang mempunyai ketinggian 792 mdpl, tumbuhan yang ada di Lembu juga seperti semak-semak. Nyamuk sangat suka dengan tumbuhan itu, aku sebal sama Lukman yang menggoda aku gara-gara nyamuk.

Lukman menggoda aku dengan “makanya kak, mandi biar ga di gigit nyamuk”. Sesampainya di Pos satu, suasananya sangat sejuk dan banyak angin. Di sini bisa buat Camping karena tanahnya yang datar, pemandangannya adalah Gunung Parang. Ada warung di sini, sehingga jika kekurangan logistik bisa beli di sini. Juga di sini ada pohon jengkol, aku melihat penjaga warung sedang memisahkan jengkol dari kulitnya.

IMG_2582
Pos II

Sebelum di pos dua, aku diberikan gula merah sama salah satu rombongan aku di kasih gula merah untuk meningkatkan tenaga yang sudah hilang. Di pos dua, lagi-lagi aku di gigit nyamuk entahlah nyamuk kok suka banget sama aku. Aku sebal banget sama nyamuk, sehingga pendaki yang lewat memberi aku lotion anti nyamuk.

Setelah Pos dua, Gunung Lembu banyak sekali petilasan aku rasa terdapat tiga petilasan atau bisa lebih aku hanya bisa mengira-ngira. Setiap kali aku bertemu petilasan, aku selalu mengucapkan salam dan entah mengapa mereka yang di belakang mengikutiku.

Hari semakin malam, sebelum sampai puncak aku harus melewati jalan berbatu dan hanya ukuran jalannya hanya satu badan saja. Semakin ke puncak trackingnya semakin mengecil. Dan sebelum aku camping jalanan berbatu, aku meminta Abang Abiem untuk jalan terlebih dahulu sebagai pembuka jalan dan aku bersama teman aku (lupa namanya) mengikutinya. Sedangkan Ainur dan Rian ada dibelakang menyusul aku. tiba-tiba ada tiga pendaki memanggil kami, ternyata Ainur kakinya kram.

Kram kaki di kanan dan di kiri, Bang Abiem lari menuju Rian dan Ainur. Aku dan teman aku hanya bisa duduk menunggu Bang Abiem yang sedang menolong Ainur. Tiba-tiba tiga pendaki itu turun kembali dan mereka tidak tega melihat Ainur kesakitan. Ainur menolak pertolongan ketiga pendaki itu, karena sudah merasa baik-baik saja.

Salah satu pendaki itu berkata, “seseorang yang memakai tas daypack ataupun carier itu bersaudara di gunung”. Mendengar itu hati Ainur terenyuh dan terngiang. Bang Abiem datang, Bang Abiem meyakinkan aku dan teman aku bahwa Ainur baik-baik saja. Aku mengikuti langkah Bang Abiem dan suara adzan berkumandang aku berhenti sejenak.

Langkah demi langkah dan kami ketemu Ranger Lembu untuk memeriksa keadaan Gunung Lembu. Dia memberitahu masih ada lahan untuk menenda, dan kami menjelaskan di atas masih ada teman kami, mungkin mereka sudah menemukan tempat untuk menenda. Kami menuju rombongan, di sana sedang siap-siap untuk membangun tenda.

Akhirnya, Ainur dan Rian datang aku sangat senang melihat mereka dalam keadaan baik-baik saja. Tenda sedang didirikan aku ingin membantu mereka tetapi bingung mau membantu apa. Akhinya, aku hanya bisa diam saja sambil ngobrol-ngobrol dengan yang lain.

Tiba-tiba, salah satu rombongan aku ada yang merasa dia akan haid. Dan dugaan dia benar, Ainur merasa ada beberapa makhluk halus yang sedang mengikutinya. Ainur mengaku kepadaku, bahwa dia bisa melihat yang kasat mata. Aku hanya memberikan nasihat untuk hati-hati dan banyak-banyak berdoa agar tidak di ganggu oleh mereka.

Setelah tenda sudah selesai, mereka mengatur satu tenda dengan siapa dan mengatur tata letak tenda dan dapur. Aku hanya bisa diam, aku tidak bisa membantu membangun tenda. Aku disuruh tidur berdua dengan Ainur, aku masuk tenda dan mengeluarkan matras dan sleeping bag.

Setelah mengatur tempat untuk tidur, aku mencoba keluar tenda untuk mengobrol bersama mereka. Aku membantu mereka untuk memasak, walaupun aku tidak membantu banyak. Makanan sudah selesai, aku makan yang telah dimasak oleh mereka dan makan apa saja yang mereka sajikan.

Setelah itu mereka mengajak aku untuk bermain kartu, aku dan Ainur kembali ke tenda. Aku tidak pernah tidur selelap ini, mungkin karena aku kurang tidur tadi siang. Aku masih mendengar teman-teman aku yang asik untuk mengobrol di luar sana. Teman aku membangunkan aku tepat pukul 03.00 dini hari untuk melihat matahari terbit.

Kami melangkah dalam kegelapan yang hanya cuma lampu senter saja, aku mengikuti langkah ang ada di depanku. Jika aku tidak hati-hati dalam melangkah aku bisa saja terjatuh. Aku hanya hanya melihat setapak demi setapak, ada beberapa pohon tumbang yang menghalangi jalan.

IMG_2695
City Light Waduk Jatiluhur

Aku agak ngeri melihat bongkahan batu tetapi aku harus berani ke sana, di sana aku hanya bisa melihat City Light. Aku meminta teman aku untuk poto di sana, mungkin hasilnya jelek jadi poto aku di hapus. Semakin pagi, aku melihat yang menuju puncak Batu Lembu banyak sekali yang medatamgi area itu karena ingin melihat matahari terbit (sun rise). Untung, kami datangnya lebih awal jadi kami bisa berada di paling depan.

IMG-20151227-WA011
Sun Rise di Gunung Lembu

Matahari sudah berada di atas mengabadikan moment itu dengan berpoto, aku memakai handphone teman. Setelah berpoto, aku sebal sekali sama salah satu pengunjung di sana. Aku melihat gelinding ke bawah, seandainya saja aku mengetahui siapa yang membuang itu aku akan marahi dia.

 

Hari makin panas, maka kami akan kembali ke tenda untuk membuat sarapan membereskan tenda. Sebelum kami kembali ke tenda kami bertemu pendaki dari komunitas lain, mereka meminta poto dengan kami yang jumlah pesertanya lebih banyak dibandingkan oleh mereka. Setelah puas, kami kembali ke tenda. Sebelum ke tenda aku agak terkejut dengan tracking yang aku lewati, aku melewati yang begitu terjal dan sempit.

Tibalah aku di tenda, di sana aku ingin sekali buang air kecil. tetapi aku bingung untuk buang air kecil. Ingin di bawah tempat tenda takut ada yang melihatnya, ada dua orang laki-laki yang memberikan aku dan juga Ainur harus buang air kecil dimana. Setelah itu kami makan dan mulai packing, salah satu dari rombongan aku mengatakan “lebih baik itu sampah kita bakar saja”. Lukman ketua rombongan di sana mengatakan, “jika ingin membakar sampah lebih baik di tunggu sampai padam”.

Dan Lukman menjelaskan, “itulahlah kenapa banyak kasus di Gunung banyak kebakaran, dikarenakan para pendaki tidak pernah menunggu apinya mati jika ingin meninggalkan lokasi tempat dia kemah”. Kami yang sedang bersih-bersih tiba-tiba dikejutkan oleh segerombolan monyet, monyetnya tidak menghampiri tenda kami hanya menggantung pepohonan saja. Dan memang itu sangat umum terjadi di Gunung Lembu.

Screenshot_2016-03-21-19-03-44-940
Bersiap-siap untuk turun

Sampah yang kami bawa akan di buang di Basecamp, kamipun bersiap-siap untuk turun. Aku melihat tempat kami lalui itu, betapa terkejutnya aku, di Gunung Lembu banyak sekali petilasan. Aku lupa petilasan apa saja di sana, tetapi tempat petilasannya itu dekat sekali jurang ada semacam saung tempat untuk berziarah.

Aku turun dengan jalan setapak dengan lembar kira-kira satu meter dengan jalanan yang berbatu. Dalam lebar satu meter itu sampingnya adalah jurang, jika tidak hati-hati akan terjatuh. Ketika ada pendaki yang ingin naik, maka salah satu dari kami harus mengalah, aku dipersilakan turun terlebih dahulu dan yang naik diam ditempat. Setelah itu, mereka yang baru naik baru jalan setelah aku melewati mereka.

Kami turun sangat berhati-hati sekali, jika kami tidak hati-hati akan terjatuh karena trackingnya lumayan terjal dan berbatu. Beberapa kali aku hampir terjatuh, ada beberapa pendaki terjatuh dan terpeleset karena salah pijakan. Ada sebuah warung, aku berhenti sebentar untuk berisirahat. Di sana ada anjing punya warga yang bertujuan untuk menjaga warung mereka dan tanaman mereka. Kami mengobrol sebentar di sana, aku turun saja sendiri dan menemui yang lainnya dan ingin menikmati es kelapa muda kesukaan aku.

Sambil menunggu mereka turun, aku menikmati air kelapa yang aku minum. Aku menikmati sambil memandang kegagahan Gunung Parang yang menurut aku gunungnya seperti alu. Alu adalah alat untuk menumbuk beras ketan untuk menjadi uli, biasanya ibuku selalu membuatnya di saat ada hajatan dan lebaran.

Gunung Parang sangatlah gagah, membuatku merinding membayangkan jika aku menaiki gunung itu. Teman-teman aku sebagian ada di atas sedangkan aku hanya bisa menikmati angin sambil meminum air kelapa. Betapa nikmatnya dan hampir saja aku tertidur dibuatnya.

Kami menuju pos I di sana ada rumah pohon, di saat teman-teman aku sedang berpoto aku hanya dudu di dalam gubuk kecil. Aku di sana bersama Lukman bersama Ranger yang namanya entah siapa yang jelas dia adalah Ranger yang sukarelawan Gunung Lembu. Ranger adalah seseorang yang bertugas untuk menjaga kebersihan gunung juga melindungi dan menolong para pendaki jika terjadi hal yang tidak di inginkan.

Dia menjelaskan berbagai Gunung yang wajib untuk pemula untuk di daki. Dia juga menjelaskan, Gunung yang ada di Purwakarta yaitu Gunung Parang dan Bongkok. Setelah mereka puas untuk berpoto dan mengobrol dengan Ranger sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Basecamp.

Di dalam perjalanan, kaki aku terkilir dan tidak ada yang menolong aku. aku hanya bisa berhenti dan mencoba merenggangkan kaki saja, padahal teman satu rombongan aku melihatnya. Tapi ya sudahlah, aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.

Sesampainya di Basecamp, aku hanya bisa merenggangkan otot-otot aku saja. Ada obat oles untuk meredakan nyeri, aku memintanya dan mengolesi ke bagian yang terkilir. Di sana aku mengisi perut aku dan juga Ainur dengan semangkok bakso. Sehabis mendaki memang enak untuk makan, walaupun rasa baksonya tidak terbilang enak tetapi enak jika di makan pada saat perut kosong. Aku memakan dengan lahapnya, tiba-tiba aku ditagih uang untuk mengganti uang kereta.

Aku bingung mau ke mana kita selanjutnya, aku hanya bisa diam dan mengikuti mereka. Dan mereka mengajak aku dan Ainur untuk makan sate maranggi di dekat pasar. Satenya di hargai pertusuk, beda sekali dengan di Jakarta yang dihargai per sepuluh tusuk. Setelah kami menyantap sate maranggi, kami pulang dengan jadwal kereta paling terakhir yaitu jam 16.00.

Kami berpisah dengan Lukman dan satu temannya lagi, mereka orang asli Purwakarta. Kami sudah berada di Kereta Api, aku duduk berhadapan dengan Ainur. Karena pergi pada saat libur panjang, kereta kami berhenti lama sekali. Aku tidur di kereta dari dengan nyenyak sekali, kereta yang kami tumpangi tidak meninggalkan stasiun itu.

Aku merasakan kesal sendiri, karena kereta tidak bergerak sama sekali. Mungkin saja kereta yang kami tumpangi menunggu kereta yang keluar kota masuk terlebih dahulu atau mau keluar. Aku tertidur di Stasiun Karawang sekitar 1-2 jam dan kereta yang aku tumpangi tidak bergerak sama sekali.

Akhirnya, perjalanan berakhir di Stasiun Kota dan berakhir pula kisah perjalanan selama di Purwakarta. Aku sebenarnya di ajak mereka untuk makan malam bersama, karena perjalanan menuju rumah masih jauh akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja.

Iklan

18 Comments Add yours

  1. Gita Siwi berkata:

    Kamu memang suka naik gunung ya Clar…..kadang memang rencana dadakan itu suka banyak yang jadi dibanding sebaliknya ya. Tapi tetaplah mendaki gunung perlu prepare. Pengen juga bisa naik gunung lagi. Hahaha zaman SMA dulu masih kuat

    Suka

    1. Hooh, kalo da persiapan misalnya olahraga terlebih dahulu bisa lbh maksimal mbak.

      Suka

  2. dewipuspasari berkata:

    Wah seru petualangannya Clara. Kalau hiking aku juga lumayan takut pas turunnya, entah kenapa takut kepleset kalau jalannya licin. Salam Clara:)

    Suka

    1. Tergantung tracking dan musimnya sih, coba deh mbak hiking sekali2 pasti ketagihan.

      Suka

  3. dqwian berkata:

    Aku blm pernah loh clar daki gunung. Waktu kuliah pengen banget gabung di pecinta alam, tapi selalu dilarang orang tua. Hebat loh kamu.

    Btw, bentuk gunungnya kaya lembu tuh maksudnya lembu=kambing bukan sih? Hahaha

    Suka

  4. dqwian berkata:

    Hebat loh kamu clara…
    Aku blm pernah sama sekali daki gunung. Dulu waktu kulian pengen banget gabung klub pecinta alam, tp selalu dilarang sama orang tua.
    Btw, salam kenal clara 🙂

    Suka

    1. Salam kenak mbak, itu ja dulu nekad mbak naik gunung sbnrnya mah dilarang.

      Suka

  5. dennisesihombing berkata:

    Pengalaman yang menyenangkan ya Clara

    Suka

  6. putrikpm berkata:

    Seru banget mba Clara. Pengalaman pertamanya tapi udah seseru itu. Sayang aku belum berani nanjak hehehe

    Suka

    1. Beraniin mbak nanti juga ketagihan 🙊

      Suka

  7. uli berkata:

    wah clarakeren deh, ayoo ntr naik gunung bareng yuuk

    Suka

    1. Ayo mbak, ajak anak2 skalian.

      Suka

  8. talkativetya berkata:

    Duh jadi kangen mau hiking lagi. Dulu aku hiking karena kuliahnya jurusan Biologi dan ada beberapa matkul yg memang mengharuskan naik gunung. Emang seru naik gunung itu dan biasanya kita bisa lihat sifat asli seseorang ketika sedang naik gunung.

    Alhamdulillah selama aku hiking gak pernah lihat yang aneh2. Kalaupun ngerasa deg2 ser biasanya aku abaikan aja.

    Suka

    1. Da lho mbak pengalaman aku melihat yg aneh2 🙊

      Suka

  9. avysaja berkata:

    wah seru ya… anakkku yg sulung jg hobi bgt naik gunung… tapi sekarang sdh gak lagi krn saya larang… ya itulah seorang ibu, takut dia kegigit nyamuk atau kelaparan hehehe

    Suka

  10. Melluthi berkata:

    Salam kenal ya clara, sambil membaca aku jadi sambil membayangkan ya, lengkap banget ceritanya. Membuat yang baca jadi ikut menikmati keindahan alamnya. Terutama aku suka foto city light nya, keren banget.

    Suka

  11. Desy Yusnita berkata:

    Hi Mba Clara salam kenal, masih muda pokoknya jangan takut explore sana sini Mba. Biar banyak pengalaman. Aku aja belum pernah naik gunung heheheh. Sekalinya kepengen badan dah ga sanggup hehehe

    Suka

  12. Kalo baca cerita cerita naik gunung seru yah, tapi aku ndak berani >.<

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s