City Tour Kota Tua Tanpa Rencana

img-20151122-wa000

Berawal dari percakapan kami yang ingin sekali melihat pameran di Museum Mandiri. Aku, Ainur, Kakak Fina, Kang Heri, dan Om Gatsu. Aku janjian dengan mereka di depan Museum Mandiri. Mereka datang lama sekali sampai-sampai Museum Bank Mandiri tutup dan pameran di Museum Mandiri sudah selesai. Aku menghubungi semuanya dan mereka memang menepati janji tetapi sangat terlambat, aku sangat kecewa tapi ya sudahlah. Pertama aku bertemu Kakak Fina di lanjut dengan Kang Heri dan juga Ainur, Om Gatsu ternyata tidak jadi datang.
Aku menghubungi Ainur dan Ainur meminta aku untuk menjemput didepan Museum Bank kami melanjutkan perjalanan ke arah kawasan Kota Tua, Kakak Fina menemui Mbak Yuni dan juga pacarnya Mas Ari di depan restoran Batavia. Tepat di tanggal 29 November 2015 kami melakukan City Tour dadakan.
Kami mengikuti langkah Kang Heri dan berniat ke Pelabuhan Sunda Kelapa tetapi karena ada spot yang bagus untuk poto-poto akhirnya kami berhenti di sana. Tempatnya seperti terminal bus yang tidak terpakai lagi letaknya di pinggiran kali dan dibelakang sana bisa poto dengan background hotel Belanda. Aku tidak menyangka Mas Ari membelikan kami minuman, di lihat dari kejahuan ada beberapa Photograper yang sedang mempoto model di tempat itu. Tempat itu sangat sepi dibanding daerah sekitaran Kota Tua yang sudah ramai sekali.

img-20151125-wa013

IMG-20151123-WA001.jpg

Setelah kami puas poto di sana, kami pidah lokasi tidak jauh dengan bekas terminal itu. Kami menuju Jembatan Merah atau Jembatan Kota Intan yang pernah menjadi saksi pada masa Belanda. Jembatan Merah merupakan bekas pasar ayam dan juga jembatan Merah merupakan tempat pengantar barang dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Dahulu jembatan ini bisa terbelah jadi ada kapal bisa masuk. Sekarang Jembatan Merah hanya bisa berdiri dengan gagahnya menjadi saksi biksu masa penjajahan tetapi sebelum memasuki area Jembatan Merah di kenakan pungli yang katanya uang pemeliharaan dan kebersihan. Pada saat aku ingin membayar, aku menunggu kakak Fina dan yang lainnya. Aku ingin membayar uang masuk itu dan ternyata di bayarin oleh Mas Ari.

IMG-20151123-WA007.jpg

Saat kami sedang berpoto tiba-tiba Mbak Melto menghubungi aku dan menyusul kami ke Jembatan Merah. Aku dan lainnya susah lelah untuk poto dan hanya bisa menunggu Mbak Melto datang untuk menemui kami. Mbak Melto tidak tahu aku memberitahukannya kami di lokasi Jembatan Kota Intan, dan Mbak Melto hanya mengenalnya dengan Jembatan Merah. Kami mengobrol dan entah Mbak Melto menyebutkan nasi goreng Cikini, aku hanya berpikir kami berada di kawasa Kota Tua tetapi makan di Cikini.
Malam semakin larut, kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kami melewati Sungai yang sangat kotor dan berbau. Disana ada beberapa rumah makan, orang yang makan di sana menikmati makanan mereka. Apakah mereka sudah terbiasa dengan baunya Sungai? Atau memang mereka terpaksa makan di sana tanpa mempedulikan kebersihan dan kesehatan mereka. Entahlah aku tidak mengerti dengan mereka, mereka itu sudah terbiasa dengan sekitarnya atau memang terpaksa daripada tidak makan dan makan disana adalah makan yang murah.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Anonim berkata:

    ini kota tua di jakarta kan? disana gk ada tempat makan yang menarik untuk di ulas?

    Suka

    1. Waktu itu kita ga berpikiran untuk makan karna ke asyikan poto2.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s