Kopdar Pertama 

2.1 Pertama Kali Bertemu dengan Mereka

Kopi Darat atau (KopDar) adalah kegiatan ketemuan langsung dari dunia maya ke dunia nyata. Ini adalah kopdar pertama yang aku lakukan aku sebenarnya tidak menyukai hal seperti ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu, pada awalnya aku tidak ingin kopdar melainkan ingin ke Museum.

Pada tanggal 11 Oktober 2015 aku bertemu mereka, aku bertemu dengan Diah, Dahlia, Erwin, Bayu, Heri, dan Orang Serang aku tidak bisa menyebutkan satu-satu. Aku memang datang terlambat karena Bus Transjakarta jalannya sangat pelan. Aku menghubungi yang lainnya dan mereka dengan sabar menunggu.

Dikarenakan aku dan Ainur telat untuk tiba di Museum, aku sudah sampai Monas karena aku tidak tahu lapangan IRTI akhirnya aku hanya berputar-putar saja. Ainur menelpon aku dan aku mulai panik aku ada di mana, handphone aku batrenya mau habis aku menghubungi Ainur bagaimana. Aku memang membawa power bank dan itupun sedikit lagi mau habis.

 

2.2 Menuju Taman Suropati
Akhirnya aku menemui Ainur di halte Museum Nasional (Munas) setelah itu aku bertemu dengan Mas Bayu, Mbak Diah, Kang Herri, Teh Dahlia, Mas Erwin, Teh Anu, dan anak-anak Serang yang aku tidak tahu namanya tetapi lebih tepatnya aku lupa. Kami memutuskan untuk keliling kota dengan Bus Wisata kami tidak bisa menaikinya karena selalu saja penuh penumpang.

Bus wisata itu memang gratis harap di maklumi saja orang Jakarta itu suka yang namanya gratisan. Setelah menimbang-nimbang waktu yang memutuskan kami harus ikut kopdar di Taman Suropati (Tamsur). Sebelum kami ke Tamsur kami makan ketupat sayur di pinggir jalan dan harganya mahal banget walaupun kami di traktir sama Mas Bayu. 

Mas Bayu kesal karena tukang ketupat sayur memasang harga dengan seenaknya, jadi yang mau makan di pinggir jalan sekitar Monas atau Munas harus menanyakan harga makanan dulu agar tidak ketipu. Aku berjalan menuju Monas karena mobilnya Mas Bayu di parkir ke arah sana. Sepanjang perjalanan Mas Bayu menceritakan apa saja dan aku agak kaget Mas Bayu begitu terbuka sama aku yang baru dikenalnya.

Kami menuju Tamsur, di sepanjang perjalanan kami melihat Teh Anu berjalan kaki. Kami memanggil Teh Anu dan menanyakan kenapa jalan kaki, ternyata helm yang dipakai Teh Anu itu di potong sama sipencuri helm. Tibalah kami di Tamsur, Mas Bayu hanya mengantar kami tidak sampai Taman Suropati dikarenakan ingin menjemput Mbak Anita di Stasiun Tanah Abang. Mas Erwin dan Mbak Anita juga ke Stasiu

Aku dan Ainur mencari tempat yang dijanjikan sedangkan Kang Heri dan temannya ingin shalat Ashar. Aku dan Ainur datang ke tempat yang dijanjikan tetapi tidak ada orang. Aku menemui teman yang dari Serang, menuju ke sana aku bertemu dengan Mas Twins untuk pertama kalinya. Mas Twins mengajak aku dan Ainur untuk bergabung tetapi kami lebih mencari menemui Kang Heri.

Aku, Ainur, Kang Heri dan teman dari Serang menuju tempat yang dijanjikan itu. Setelah aku dan Ainur absen tiba-tiba Mbak Melto memberikan tugas untuk memegang absen aku bertemu dengan Mas Twins, Kakak Fina, dan berbincang dengannya dikarenakan Ainur sudah kenal dengan mereka juga memegang absen Ainur meninggalkan aku. Aku tidak tahu ingin bergabung dengan siapa karena aku belum mengenal dan bertemu dengan mereka sebelumnya.

Aku berbincang-bincang dengan Om Gatsu atau Gatot Subroto bersama Abah (Majid). Kami mengobrol seputar Jepang, Om Gatsu sangat tertarik dengan dunia Jepang dan ingin mendalaminya melalui aku. Acara kopdar itu bertepatan dengan acara Komunitas Reptil, aku tertarik untuk melihatnya. Aku melihat dari kejauhan seperti melihat Mas Wawan, aku hanya memandangnya dan tidak berani untuk menyapanya.
 

2.3 ngobrol-ngobrol cantik dulu 

Acara terus berlanjut aku hanya bisa mengobrol dengan Abah, Om Giri dan anak dari Bogor. Setelah itu, aku hanya bisa menonton Mas Kandar dan Mbak Wahyu untuk memipin acara kopdar chapter Jakarta dan di lanjutkan dengan game juga memotong tumpeng. Setelah makan-makan, acara aku tetap ingin menghampiri komunitas Reptil dan bertanya-tanya tentang Reptil.

Selain Komunitas Reptil di sana juga ada komunitas Anjing, aku melihatnya ingin menyentuh tetapi sayang Ainur tidak suka dengan anjing. Dia sangat takut dengan anjing entah alasannya apa setiap kali aku memanggil anjing yang lewat dia langsung kabur. Aku bertemu dengan Mas Rangga, Om Amil, dan Mas Dance dan semua group di chat hampir semuanya bertemu.

 

2.4 Kluarga Besar BPI Chapter Jakarta

Puncak acara kami berpoto ria dan aku masih mencari-cari Ainur yang entah dimana. Aku pamitan dengan Mas Dance karena ingin pulang, sebelum pulang aku salat maghrib terlebih dahulu dan disana aku bertemu dengan Mas Erwin beserta temannya. Mereka menyarankan aku untuk memesan Ojek pada saat itu handphone aku tidak ada aplikasinya.

Sebelum salat, aku menunggu giliran untuk salat karena Mushollah yang ada di Pos Satpam sangat kecil hanya bisa muat untuk tiga orang. Di Musholah aku bertemu dengan Mas Wawan dan berbincang sebentar untuk menanyakan Mas Iki karena dia tidak hadir untuk menghadiri Kopdar. Sehabis salat akhirnya aku bertemu dengan Ainur.

Aku sangat senang bertemu dengan Ainur lagi karena aku bisa pulang bareng dengannya. Akhirnya aku pulang bersama Ainur dan Mas Andri, dia mengantarkan sampai Kampung Rambutan karena rumah Mas Andri berada di Rawa Kopi. Selama perjalanan kami berbincang tanpa aku ketahui Mas Andri mentraktir kami mie. Sehabis makan mie kami diantarkan ke terminal kampong rambutan sambil menunggu bus yang kami tumpangi untuk perjalanan pulang aku dan Ainur mengobrol tentang pendakian gunung selanjutnya. Sungguh hari yang panjang dan menyenagkan bertemu dengan teman-teman baru.

Taman Suropati (awalnya bernama Burgemeester Bisschopplein), taman ini di ambil namanya dari Walikota (Burgemeester) yang pertama yaitu G.J. Bisshop (1916-1920). Taman ini berada tepat di antara pertemuan jalan utama yaitu Menteng Boulevard (Jalan Teuku Umar), Orange Boulevard (Jalan Dipenogoro), dan Nassau Boulevard (Jalan Imam Bonjol). Awalnya berbentuk bukit dan sudah di keruk, sebagian sisa tanah kerukannya di buang di jalan Besuki.

Lapangan ini pada awalnya ditanami pohon dan bunga pada tahun 1920. Lapangan yang sekarang dikenal dengan Taman Suropati dulunya lapangan bundar luas dalam Rencana Moojen. Taman Suropati yang rindang dan dihiasi oleh beberapa patung dari pematung ASEAN.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s