Belajar Mendaki Gunung

Di Puncak Gunung Munara

Pada tanggal 20 September 2015 aku belajar naik gunung. Kakak aku yang dulunya melarang aku untuk mendaki gunung menyarankan untuk naik gunung Munara. Memang Gunungnya kecil, banyak yang mengira Munara itu bukan Gunung melainkan itu hanya sebuah bukit. Jangan salah walaupun gunung kecil, tracking menuju puncak sangatlah terjal. Berawal dari ide aku yang ingin naik gunung sebenarnya aku naik gunung bersama Ainur, Wawan, Rizky dan Bayu. Akan tetapi menjelang hari H pria yang aku sebutkan itu tidak bisa ikut. Wawan dan Rizky ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sedangkan Bayu ada kondangan. Aku mengajak Sheila untuk belajar naik gunung, dia sangat ingin naik gunung.

Berawal pada malam minggu Sheila menginap di rumah aku sudah menghubungi Ainur untuk tempat bertemu di mana. Ainur sangat ingin mengajak adik dan temannya, karena Wawan tidak bisa ikut ke Munara Ainur sempat tidak ingin ke Munara. Aku dan Sheila memutuskan jika ada dan tanpa Ainur aku tetap ke sana.

Pagipun tiba, aku ingin membangunkan Sheila tetapi aku tidak tega karena dia tidur dengan nyeyaknya. Sebelum dia terbangun aku mempersiapkan sarapan dan perlengkapan apa saja untuk di bawa paada saat mendaki gunung. Persipaan sudah siap dan waktunya untuk menuju pada akhirnya Ainurpun datang. Sebenarnya aku dan Ainur itu tidak pernah bertemu sama sekali dan untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Ainur.

Aku bertemu dengan Ainur untuk pertama kalinya dan aku bertanya-tanya apakh dia itu baik atau tidak. Akh sudahlah, aku hanya bisa berfikir positif semoga saja dia tidak seperti apa yang aku pikirkan. Menit demi menit aku menunggunya di kawasan Mall di Parung, sebenarnya aku agak meremehkan Parung dan merasa agak tidak percaya Parung mempunyai Mall. 

Dan akhirnya aku bertemannya dengan Ainur, dia menyapa aku dan orangnya sangat ceria. Ainur bersama temannya yang bernama Lusi. Setelah berkenalan kamipun berempat langsung ke TKP (Tempat Kejadian Perkara), kami ke sana hanya mengandalkan angkutan umum. Kami sama sekali tidak mengetahui tempat tersebut hanya mengandalkan bertanya dengan orang.

Kami di angkutan umum saling mengakrabkan diri dan bersenda gurau di sana. Kami naik angkutan umum heran seherannya karena supir angkutan umum itu bergonta-ganti sebanyak tiga kali. Akh, sudahlah yang penting itu supir mengantarkan kami di TKP sampai dengan tujuan. 

Perjalanan menuju Munara itu di lalui dengan permukiman warga kami berjalan kira-kira 1 km ya lumayanlah untuk pemanasan sebelum ke Munara. Beberapa meter sebelum pintu masuk, kanan kiri ada pemakaman umum. Kelihatannya horror sekali karena ada pemakaman umum dan jalan yang kami lalui sangat sepi. Tibalah kami di pintu masuk Munara, kami mendaftar terlebih dahulu dan membayar masing-masing Rp. 5000.

Untuk ukuran Gunung Munara sangatlah terjangkau dan sehabis pintu masuk kami melihat kanan kiri warung makan jadi jangan khawatir jika belum sarapan atau makan siang menuju ke Gunung tsb. Kami makan siang terlebih dahulu di salah satu warung, sekitar warung kami melihat rombongan pendaki yang habis menenda di sana. Dan kami mengikuti petunjuk masuk ke Munara setelah itu kami berjalan di jembatan dari bambu seru aku berpikir bahwa nanti ada air di sana.

Memasuki Munara, banyak warga yang meminta sumbangan untuk perbaikan jalan. Mungkin saja ini semacam pungli (pungutan liar) jika ingin memperbaiki jalanan Munara. Jalanan setapak demi setapak kami lalui dan ternyata aku salah memakai celana. Aku memakai celana Jeans, jadi aku terlalu berat untuk melangkah. Jadi untuk mendaki gunung hindari yang namanya celana Jeans, selain berat celana tsb tidak gampang kering jika hujan turun.
 

Ada Penampakan Lelaki di Tidak di Kenal
Aku mencari tempat ataupun warung untuk menukar celana untungnya aku membawa celana yang lain. Setelah menukar celana aku melanjutkan perjalanan, jangan meremehkan Gunung Munara walaupun itu Gunung kecil lebih tepatnya seperti bukit. Tracking atau jalanannya sangat terjal, di perjalanan kami bersenda gurau dan banyak pendaki yang memberi aku semangat. Aku dan teman-teman aku sedang melihat pemandangan yang bagus tiba-tiba ada seorang Pria yang ikut bersama kami untuk berpoto.

Tibalah kami di Puncak satu, kami duduk-duduk di sebuah warung dan kami bertemu dengan beberapa pendaki yang ingin membersihkan Munara dari sampah. Salah satu dari pendaki yang menarik kami adalah seorang anak kecil yang berani bernama Annisa. Ibunya bercerita bahwa Annisa itu sudah menaiki Gunung Rinjani sedangkan kami baru saja mendaki yaitu Munara. 
 

Aku, Ainur, Sheila, dan Annisa
Entah mengapa aku jadi semangat untuk mendaki dan kata Ibu dari Annisa jika ingin melihat lebih tinggi seharusnya ke puncak yang kedua, puncak yang pertama itu menakinya harus memakai webbing. Memang, di Munara itu lebih cocok untuk climbing karena banyak batuan besar. Dikarenakan remendasi dari Ibu Annisa itu kami ke puncak dua, perjalanan ke sana sangat terjal sampai 45 derajat.

Kami memang banci poto waktu yang kami habiskan hanya untuk berpoto ria, kami bertemu Orang Tua dari Annisa, Annisa di gendong sama bapak dan alangkah terkejutkan kami anak sekecil itu menganggap hutan itu rumahnya. Walaupun Bapaknya tetap mengajarkan hutan ya hutan rumah ya rumah, dan Annisa bersikeras bahwa gunung dan hutan adalah rumahnya.

 

Menuju Puncak 2 Munara
Kami menyusul Annisa ke puncak dua Munara, di sana kami melihat pemandangan yang sangat indah walaupun di tutupi kabut yang tipis. Kami terkejut melihat sampah yang berserakan di mana-mana. Di sana ada warung dan tempat sampah entah mengapa mereka yang di gunung di sadar akan kebersihan Gunung. Kami sedang asyik-asyik berpoto ria kami dikejutkan dengan sekelompok pemuda yang kami temui di bawah. Kami bersenda gurau di sana, memang tidak salah dengan nama “Wawan” waktu kami kenalan dengan pemuda itu. Nama Wawan itu mengingatkan aku dan Ainur kepada teman kami yang tidak jadi ikut ke Munara dikarenakan pekerjaannya.

 

Puncak 2 Munara
Ada satu kejadian yang muat aku merinding dibuatnya yaitu ada seorang pemuda jatuh terguling-guling. Aku membayangkan jika pemuda itu jatuh tidak di tahan oleh pohon besar, batu yang dibawahnya siap menyambut dan entahlah apa yang terluka dia masih hidup ataupun meninggal di tempat. Pemuda itu turun dengan cara berlari padahal trackingnya dengan sudut 45 derajat.

Kami bercerita satu sama lain dan memperhatikan para pendaki yang menggunakan wedges dan tidak pantas untuk naik gunung. Kami memang empat perempuan yang mendaki gunung tidak ada satu orang pria yang mendampingi dan kami selalu di tanya sama para pendaki dengan “cowoknya ke mana neng?”. Aku hanya bisa tersenyum dan teman aku hanya bisa menjawabnya “cowoknya lagi mencuci baju”.

Aku sebal dengan omongan itu, apa-apa di tanya dengan hal seperti di gunung. Memangnya mereka tidak pernah melihat perempuan naik gunung tanpa bantuan para lelaki. Aku juga sebal sama Sheila teman aku, memang di sana banyak warung yang jualan. Tetapi sikapnya itu kepada penjaga warung tidak sopan, wajarlah mereka menaikkan harga makanan karena itu tempat wisata. Dan dia juga suka memaksa kehendaknya, hanya aku yang tidak berhijab tapi hargailah keputusan aku bukan karena ikutan trend atau apalah.

Gunung Munara terletak di Desa Kampung Sawah, Rumpin Bogor. Letaknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Jika mau ke sana dari Jakarta bisa lewat Lebak Bulus – (Ciputat) Cirendeu – Pondok Cabe – Cinangka – Parung – Rumpin. Situ Gunung Munara dengan ketinggian 1119 mdpl, Gunung Munara identic dengan peziarah goa-goa, situs-situs dan semacamnya. Maka tidak heran jika kalian ke Munara banyak para peziarah yang melakukan semedi, pemujaan, dll.

Gunung Munara memiliki tiga pos, tiga puncak, beberapa goa serta batu-batu besar yang memiliki kepercayaan sudah melekat di telinga masyarakat. Misalnya saja Batu Adzan dan Batu Quran, konon dibatu tsb Adzan pernah dikumandangkan oleh Sultan Hasanudin yang berdekatan dengan goa pertapaannya. Di sana juga ada petilasan yang konon katanya petilasan Kabayan dan Bung Karno juga Soeharto pernah melakukan pertapaan di sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s